sekilas Gabag atau Morbili atau Kerumut

Hobi tour (blogwalking) menuntun saya ke blog Kang Kombor yang nulis posting menceritakan kejadian tahun 1998 ketika beliau terkena Gabagen (Campak, Morbili, Kerumut: bahasa Banjar). Posting tersebut menindaklanjuti posting Hipotensi oleh fertobhades.
Berikut cuplikannya:

Selama lebih dari seminggu Kang Kombor tersiksa dengan badan panas tinggi tetapi rasanya dingin sekali. Periksa ke RS Panti Waluyo (namanya bener nggak sih?) di Pakem, kata dokter jaga yang berwujud perempuan muda (entah dokter beneran atau dokter-dokteran) kalau dalam tiga hari panas nggak turun, berarti Kang Kombor kena tipes. Halah, waktu periksa ke Pakem itu Kang Kombor sudah menderita panas 3 hari! Bisa-bisanya suruh nunggu 3 hari lagi. Helgeduelbek tenan kalau begitu caranya. Walhasil, obat dari Pakem itu Kang Kombor buang saja. Nggak ada gunanya diminum. Wong doktere memberikan obat dengan diagnosa coba-coba. Kalau salah obat gimana? Kang Kombor kan bisa ko-it nggak ada gunanya.Eh, ndilalah setelah lewat tujuh hari muncul gabag di sekujur tubuh dan panas menghilang. Rasa lemas pun ikut pergi. Ternyata gabag. Padahal, ada yang bilang bisa jadi tipes atau DBD. Anehnya, setelah kena gabag terakhir itu sampai saat ini, Kang Kombor belum pernah memiliki tensi di atas 120. Gabagen itu entah gabagen yang keberapa yang Kang Kombor derita. Yang jelas waktu kecil Kang Kombor dulu pernah gabagen lebih dari 2 kali.

Kok bisa mbalik dari hipertensi menjadi hipotensi? Adakah yang bisa menjelaskan secara medis? Mungkin Mbah Dipo bisa memberi sedikit pandangan dokter kepada Kang Kombor. Kalau dokter Pakem itu Kang Kombor ra percoyo babar blas!

Saya tersenyum baca postingan Kang Kombor ini, karena seperti itulah gambaran hubungan antara pasien-dokter. Sekilas mungkin si dokter minim informasi, kurang komunikatif (mungkin), sedang pasien segan bertanya, akibatnya tidak percaya dan lain-lain karena kurang terjalinnya komunikasi.

Postingan di atas sebenarnya sudah menjawab pertanyaan yang menyertai penyakit tersebut, namun tak ada salahnya saya ulas kembali secara singkat.

Campak atau Gabagen ( bahasa Jawa )
Disebut juga Morbili, Measles atau Kerumut ( bahasa Banjar, bujurkah mbak Mina ? ).

Definisi.
Campak ( Rubeola, Measles, Morbili ) adalah infeksi virus akut yang sangat menular, ditandai dengan demam, lemas, batuk, peradangan selaput mata ( konjungtivitis ) dan bintik merah di kulit (ruam).

Penyebab
Penyebabnya virus morbili (paramiksovirus).
Virus ini terdapat dalam darah dan sekret (cairan) nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir.

Cara penularan melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) penderita morbili.
Artinya, seseorang dapat tertular Campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau di mana saja.

Orang yang rentan terhadap campak antara lain:

  • bayi berumur lebih dari 1 tahun
  • bayi yang belum imunisasi campak
  • remaja dan dewasa muda yang belum imunisasi kedua

Gejala.
Masa tunas (inkubasi) berkisar sekitar 12-14 hari, referensi lain menyebutkan 10-20 hari.

Gejala ( klinis ) dibagi menjadi 3 stadium, yakni:

  • Stadium awal (prodromal)
  • Stadium timbulnya bercak (erupsi)
  • Stadium masa penyembuhan (konvalesen)

Stadium awal (prodromal)
Pada umumnya berlangsung sekitar 4-5 hari, ditandai dengan:
panas, lemas (malaise), nyeri otot, batuk, pilek, mata merah, fotofobia (takut cahaya), diare karena adanya peradangan saluran pernapasan dan pencernaan.
Pada stadium ini, gejalanya mirip influenza.
Namun diagnosa kearah Morbili dapat dibuat bila terdapat bercak sebesar ujung jarum (bercak Koplik) di dinding pipi bagian dalam (mukosa bukalis) dan penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam 2 minggu terakhir.

Stadium timbulnya bercak (erupsi)
Terjadi sekitar 2-3 hari setelah stadium awal.
Ditandai dengan: demam meningkat, bercak merah menyebar ke seluruh tubuh, disertai rasa gatal. Selanjutnya gejala tersebut akan menghilang sekitar hari ketiga.
Kadang disertai diare dan muntah.

Stadium masa penyembuhan (konvalesen)
Pada stadium ini, gejala-gejala di atas berangsur menghilang. Suhu tubuh menjadi normal, kecuali ada komplikasi.

Diagnosa
Untuk mendiagnosa dapat dilakukan dengan:

  • Secara klinis, yakni berdasarkan riwayat timbulnya penyakit (anamnesa) dan pemeriksaan fisik (physic diagnostic)
  • Pemeriksaan Penunjang, antara lain: pemeriksaan darah, serologis dan biakan virus (mahal).

Diagnosa Banding
Artinya, kemungkinan penyakit lain yang mirip dengan Campak, diantaranya:

  • German measles
  • Eksantema subitum
  • Infeksi virus lain
  • Infeksi Stafilokokus, dan lain-lain.

Pengobatan

Campak tanpa Penyulit, cukup dengan:

  • Rawat jalan
  • Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori
  • Pengobatan simptomatis, artinya mengurangi gejalanya saja, semisal: obat penurun panas (parasetamol / asetaminofen), obat batuk, dan lainnya. Yang terpenting adalah memperbaiki keadaan umum.

Campak dengan Penyulit:

  • Perlu rawat inap (opname)
  • Penatalaksanaan sesuai Standard Operational Procedure (sop) atau Prosedur Tetap. Yang ini Pre Memori aja ya. (soalnya teknis sih)

Komplikasi
Dapat terjadi karena penurunan kekebalan tubuh sebagai akibat penyakit Campak.
Komplikasi yang dapat timbul, antara lain:

  • Bronkopnemonia (infeksi saluran napas)
  • Otitis Media (infeksi telinga)
  • Laringitis (infeksi laring)
  • Diare
  • Kejang Demam (step)
  • Ensefalitis (radang otak)

Pencegahan
Imunisasi ( imunisasi campak untuk bayi diberikan pada umur 9 bulan )
Bisa pula imunisasi campuran, misalnya MMR (measles-mump-rubella), biasanya diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

Catatan:
measles: campak atau morbili atau gabag atau kerumut.
mump: gondongan
rubella: German measles

Referensi:

  • Pedoman Diagnosa dan Terapi Lab IKA, RSUD dr. Soetomo, Surabaya
  • Buku Kuliah IKA, Bagian IKA FKUI

Serba serbi penyakit Campak atau Gabag atau Morbili atau Kerumut.
Berdasarkan komen postingan Kang Kombor.

Benarkah ada hubungan antara hipotensi dan gabagken itu?
Penjelasan: tidak ada hubungannya. Bila terjadi seperti itu sifatnya insidental atau mungkin saja sebelumnya sudah turun tekanan darahnya tanpa diketahui karena tidak diperiksa.
Btw, bila pas lemas-lemasnya terjadi hipotensi, hal ini bisa saja terjadi.

Komen Pak Helgeduelbek. (banyak yang menganggap seperti komen beliau) Katanya kalau gabagken suruh minum air kelapa biar cepet keluar gabag-nya yah kang, atau ada yg nyaranin minum minuman bersoda seperti sprite dll.
Penjelasan: Minum tidak minum, bercak merah tetap keluar sesuai urutan gejala.
Di atas dianjurkan banyak minum, artinya minum teh, susu dll, boleh apalagi kalau ada yang nganteri, jadi tidak harus air kelapa lalu malam-malam repot penekan pohon kelapa. Hehehe.

Panasnya 3+7=10 hari dong jadinya? Kok ngeri amat ya, itu kayak gelas disiram air panas terus-terusan selama 10 hari sampe petjah. Untung Kang Kombor nggak petjah di hari kesepuluh, amit-amit ya Kang.
Penjelasan: komen ini bernada guyonan, tetapi sangat bermakna. Bila kita lihat gejala di atas, pada dasarnya bisa sembuh sendiri asalkan ketahanan tubuhnya bagus .

Kang Kombor: Gabag memang begitu, Cay. Anakku waktu kena gabag panasnya sampe seminggu juga. Panas baru turun setelah gabagnya keluar semua. Analoginya nggak kayak gelas disiram air panas terus-menerus kali. Kan panasnya dari dalam, bukan dari luar.
Penjelasan: sudah dijawab sendiri kan ? Hehehe

Satu lagi, minum juice buah sebanyak-banyaknya. Ilmiahnya sih tubuh akan bikin sistem immune sendiri.
Penjelasan: Lho ini kan udah menjawab sendiri to.

Ada lagi:
Sebagian orang (di daerah saya) menganggap bila penderita Campak (gabag) tidak boleh mandi.
Biasanya, yang demikian saya beri komentar sambil guyon:
” Tetap mandi dong, kalau tidak mandi, pertama bau, kedua malah bisa jamuren. Toh nanti bercak merahnya tetap bertambah banyak, mandi maupun tidak mandi. Pilih mana hayo “.

Mudah-mudahan ulasan singkat ini bermanfaat.
Oya, saya sudah berusaha menulis dengan bahasa yang mudah dimengerti (menurut saya), namun saya mohon maaf bila masih banyak istilah “aneh”.

Posting asli di sini

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: