Mari Mencegah Demam Berdarah

Saya terkesan dengan tulisan Kang Kombor, yang melalui postingnya bertajuk: Berantas sarang nyamuk dan waspadaFlu Burung, menggugah kita untuk cancut taliwondo (istilah beliau), bersama-sama berupaya mencegah makin meluasnya kasus Demam Berdarah.
Ajakan beliau bisa dimulai dari kita sendiri, lingkungan kita dan seterusnya hingga gerakan pencegahan dengan memutus rantai penularan dapat menjadi kultur, menjadi kebiasaan pola hidup kita secara berkesinambungan, baik musim Demam Berdarah maupun tidak.

Cegah DBD yuk…

Iklan

Sakit kencing nanah diantar istri

Yang saya maksud di sini adalah penyakit GO atau Gonore atau Kencing Nanah.
Sudah tahu kan ? Itu tuh, penyakit terkenal yang saya istilahkan sebagai padanan cucakrowo ngiler (berliur).
Mengapa penyakit yang boleh dikata sudah sangat dikenal ini saya angkat kembali, tak lain karena ada sisi menarik terkait si cucakrowo ngiler.

Biasanya, penderita cucakrowo berliur datang sendirian malam hari, atau minta masuk belakangan. Sekilas tak nampak sakit, segar bugar dari luar. jika ditanya sesama penderita biasanya mengatakan sakit pilek atau penyakit lain.
Demikian pula saat sudah di dalam, pemilik cucakrowo berliur minta bicara dengan saya, saat ditanya istri (kami praktek bareng) ngga mau ngomong. Ada juga sih yang ngomong langsung di depan kami berdua, tapi jarang.

dianter istri..hiy

Hamil di luar kandungan

Waktu posting Membuat eBook Kesehatan (1), ada komentar pak Tajib seperti ini:

saya ndaftar pak, bikinkan ebook tentang hamil di luar nukah, eh salah diluar kandungan/rahim

Bagi para dokter, interaksi semacam ini suatu keuntungan, setidaknya menjadi lebih tahu informasi-informasi apa saja yang diperlukan. Selanjutnya sedapat mungkin menyampaikan informasi tersebut dalam berbagai bentuk melalui berbagai media.
Interaksi melalui Blog, menurut saya memiliki keuntungan tersendiri, lantaran diskusi dapat berkembang menjadi dialog dalam bentuk tulisan.

Hamil di luar kandungan

Pasien ngrasani dokter

Gara-gara tidak diperiksa ketika berobat di poliklinik penyakit dalam rumah sakit umum, seorang pasien ngomel:

” lha wong berobat koq cuman ditanya-tanya, tidak diperiksa, dapat resep, terus nebus obat di apotik. Dokternya sakti “.

Keluhan senada sering saya dengar. Apalagi jika ibu-ibu yang wadul (mengadu), wah seru, mungkin juga diberi bumbu. Ada seorang ibu bilang begini:

Wuih, mahal banget…

Cutaneous Larva migrans

cacing berlenggok di bawah kulitPara pembaca terhormat, pernahkan menemui seperti gambar ?
Mudah-mudahan tidak.
Namun demikian saya ingin berbagi informasi tentang penyakit ini. Siapa tahu ada diantara pembaca yang berminat untuk mengetahuinya.
Namanya sudah tertulis di gambar: Larva migrans
Ada 2 jenis, yakni cutaneous larva migrans (di kulit) dan larva migrans visceralis (di organ tubuh)

 

Kita hanya akan membahas jenis yang pertama: cutaneous larva migrans, lantaran jenis ini lebih sering ditemui. Nama lain adalah creeping eruption.

Namanya koq sulit sih. Sabar, nanti bisa dipermudah supaya mudah diingat.
Tenang, tenang …

Ketika menemui penyakit ini di daerah pinggiran kota, bayangkan betapa sulitnya menjelaskannya.
Begitu juga saya, saat mengatakan penyebabnya adalah cacing mungil masuk dan berkelana di bawah kulit, kira-kira apa reaksi yang mendengarnya, hayo.
Biasanya cacing kan keluar lewat anus, atau cacing kremi ada di pinggiran silit (dubur). Lha koq tak ada hujan tiada angin ada cacing di bawah kulit.

Cacing tamasya di bawah kulit

Herpes zoster bukan disembur

Silahkan lihat gambar.
Di praktek kami, penyakit ini cukup sering dijumpai. Rata -rata dalam 1 sampai 2 bulan ada penderita seperti pada gambar yang datang berobat.

Salah kaprah
Bagi warga suku Jawa, penyakit ini dinamakan Dumpo ( dompo ? ). Dan masih menurut sebagian warga suku Jawa pengobatannya adalah : DISEMBUR.
Maksudnya diludahi, crot crot crot.
Konon, bila penderitanya pria, maka dicarilah penyembur janda yang dapat perjaka. ( enak nih, banyak lho selebriti cantik berstatus janda dapet perjaka, contoh: D )

Sekali lagi, bukan disembur

sekilas Gabag atau Morbili atau Kerumut

Hobi tour (blogwalking) menuntun saya ke blog Kang Kombor yang nulis posting menceritakan kejadian tahun 1998 ketika beliau terkena Gabagen (Campak, Morbili, Kerumut: bahasa Banjar). Posting tersebut menindaklanjuti posting Hipotensi oleh fertobhades.
Berikut cuplikannya:

Selama lebih dari seminggu Kang Kombor tersiksa dengan badan panas tinggi tetapi rasanya dingin sekali. Periksa ke RS Panti Waluyo (namanya bener nggak sih?) di Pakem, kata dokter jaga yang berwujud perempuan muda (entah dokter beneran atau dokter-dokteran) kalau dalam tiga hari panas nggak turun, berarti Kang Kombor kena tipes. Halah, waktu periksa ke Pakem itu Kang Kombor sudah menderita panas 3 hari! Bisa-bisanya suruh nunggu 3 hari lagi. Helgeduelbek tenan kalau begitu caranya. Walhasil, obat dari Pakem itu Kang Kombor buang saja. Nggak ada gunanya diminum. Wong doktere memberikan obat dengan diagnosa coba-coba. Kalau salah obat gimana? Kang Kombor kan bisa ko-it nggak ada gunanya.Eh, ndilalah setelah lewat tujuh hari muncul gabag di sekujur tubuh dan panas menghilang. Rasa lemas pun ikut pergi. Ternyata gabag. Padahal, ada yang bilang bisa jadi tipes atau DBD. Anehnya, setelah kena gabag terakhir itu sampai saat ini, Kang Kombor belum pernah memiliki tensi di atas 120. Gabagen itu entah gabagen yang keberapa yang Kang Kombor derita. Yang jelas waktu kecil Kang Kombor dulu pernah gabagen lebih dari 2 kali.

Kok bisa mbalik dari hipertensi menjadi hipotensi? Adakah yang bisa menjelaskan secara medis? Mungkin Mbah Dipo bisa memberi sedikit pandangan dokter kepada Kang Kombor. Kalau dokter Pakem itu Kang Kombor ra percoyo babar blas!

Saya tersenyum baca postingan Kang Kombor ini, karena seperti itulah gambaran hubungan antara pasien-dokter. Sekilas mungkin si dokter minim informasi, kurang komunikatif (mungkin), sedang pasien segan bertanya, akibatnya tidak percaya dan lain-lain karena kurang terjalinnya komunikasi.

Campak, tetep mandi lho ya…