3 tahun tak berhubungan intim

Hari Jum’at, 19 Januari 2007, malam saya dibuat terpana oleh salah satu kejadian yang sebelumnya tidak pernah saya sangka-sangka.

Seorang ibu, berumur sekitar 45 tahun seperti biasa, kontrol mengukur kadar gula darah sehubungan dengan penyakit Diabetes mellitus (kencing manis) yang diidapnya sejak 3 tahun lebih.

Hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (tidak puasa) sekitar 180 mg%.
Menurut salah satu kriteria, angka tersebut sudah termasuk normal, mengingat 2 jam sebelumnya si ibu makan. Beliau juga hapal, bila jumlah kencing dan minumnya normal, gula darah tidak terlalu jauh dengan batas normal.

Di tengah omong-omong, ibu tersebut mengatakan demikian (sambil malu-malu):

” Menopo leres to pak, menawi tiyang kencing manis mboten angsal kempal ( apa betul pak, kalau orang yang diabetes tidak boleh berhubungan intim ) ?”

Agak kaget, saya balik bertanya:” terosipun sinten to Bu ( kata siapa Bu ) ?”.
Ibu:” terosipun bapake ( kata bapaknya / suami ) “.
Saya:” bapake ingkang nyanjangi sinten ( bapaknya yang ngasih tahu siapa ) ?”
Ibu: ” rencangipun (temannya) “.
Saya: ” mulai ( sejak ) kapan ?”
Ibu: ” pun tigang tahun niki (sudah tiga tahun ini) “.
Saya: ” koq yo betah to (koq ya betah) “.
Kamipun tertawa.

Setelah penjelasan panjang lebar, akhirnya saya mengatakan:
” Biasanipun menawi sakit lajeng taken tanggi, sedoyo dados dokter dadakan (biasanya kalau sakit lalu tanya tetangga, semua jadi dokter dadakan) “.

Alhasil si ibu bisa mengerti, sambil senyum-senyum beliau pamit (setelah bayar dong).
Ketika beranjak dari kursi, saya guyoni :
” pun mangke dikebut mawon, dicicil ngganti ingkang tigang taun (sudahlah, nanti dikebut, mencicil untuk mengganti yang 3 tahun) “.
Si ibu tersipu dan sang suami tertawa renyah.

Sungguh, saya tidak menduga ada kepercayaan seperti itu. Salah kaprah.
Siapa salah ? Jelas saya ikut terlibat lantaran kurang luas dalam penjelasan.
Dari kejadian di atas, menunjukkan betapa pentingnya dialog bersahabat antara dokter dan pasiennya. Itupun masih kecolongan.
Lalu bagaimana dengan dokter yang sok berwibawa, miskin dialog, miskin senyum tapi mahal ongkos ? Ah, yang ini biarkan saja.
Bagi saya perlu memperbaiki brosur yang biasa saya berikan kepada pasien Diabet.

Sulit dibayangkan, pasangan suami istri yang masih termasuk “kinyis-kinyis” tidak berhubungan intim selama 3 tahun hanya karena percaya omongan temannya.

Apakah anda juga begitu ?
Semoga tidak.

Posting asli di sini

 

%d blogger menyukai ini: