Pasien ngrasani dokter

Gara-gara tidak diperiksa ketika berobat di poliklinik penyakit dalam rumah sakit umum, seorang pasien ngomel:

” lha wong berobat koq cuman ditanya-tanya, tidak diperiksa, dapat resep, terus nebus obat di apotik. Dokternya sakti “.

Keluhan senada sering saya dengar. Apalagi jika ibu-ibu yang wadul (mengadu), wah seru, mungkin juga diberi bumbu. Ada seorang ibu bilang begini:

” Saya kontrol bekas operasi, hanya di dudal-dudul (maksudnya diperiksa perutnya), ngerti-ngerti disuruh mbayar 90 ribu, nebus obat 2 (dua) macem 200 ribu lebih. Gitu aja koq mahal ya “.

Mendengar beginian, saya pilih ngga komentar.
Suatu ketika, seorang wanita anggota DPRD kota kami bertanya saat hearing, sebagai berikut:

” Maaf pak dokter, kenapa sih kebanyakan Bidan di rsud dan puskesmas koq judes-judes ?”

Pertanyaan yang ini saya jawab sambil guyonan:

” Pertama, mungkin memang hobi marah. Kedua, mungkin sedang perang dingin dengan suaminya “.

Masih banyak lho, tidak saya tulis semuanya, saking banyaknya.
Tentu masih amat banyak ungkapan-ungkapan para penderita tentang dokternya. Bisa benar, bisa pula diberi bumbu penyedap.
Yang jelas keluhan atau pengalaman buruk para penderita terhadap layanan kesehatan di institusi kesehatan pemerintah, amat panjang dan beragam.
Seringkali keluhan-keluhan penderita dan atau keluarganya tidak mendapat respon positif, entah tidak mau mendengar atau sebab lain, saya kurang tahu.

Menurut saya, suara pasien atau keluarganya, atau masyarakat umum tentang layanan kesehatan mestinya dapat dijadikan bahan masukan untuk perbaikan pelayanan kesehatan.
Lebih bagus jika para dokter sudah mempersiapkan layanan optimal, tidak menunggu ada keluhan. Hal ini tidak sulit dilakukan mengingat daftar panjang keluhan terhadap layanan kesehatan, terutama di institusi pemerintah, dapat diketahui sejak dini.

Saya yakin diantara pembaca memiliki cerita tak sedap soal layanan kesehatan, di praktek, rumah sakit ataupun puskesmas.
Betul kan ?
Silahkan menceritakannya, sekalian bila mungkin memberi saran perbaikan.
Saya bukan pejabat yang bisa merubah sistem, namun paling tidak bisa untuk bahan diskusi teman sejawat dokter yang memiliki komitmen terhadap perbaikan kualitas pelayanan.

Posting asli di sini

%d blogger menyukai ini: