public warning : Jamu berbahan kimia obat

Artikel Pindahan:
Sejak tahun 2001, Badan POM Pusat mengeluarkan Public Warning tentang Jamu yang memakai bahan kimia obat. Lalu diikuti dengan Public Warning lainnya, menyusul makin banyaknya merk jamu yang berisi bahan kimia obat.

Anehnya dari tahun ke tahun peredarannya makin marak saja. Para pemakai menyukainya karena “rasa enak” setelah minum jamu tersebut, bahkan adakalanya mengkonsumsi setiap hari selama berbulan-bulan, dan ada juga yang sudah minum jamu anti linu berbagai merk sampai bertahun-tahun.


Walhasil pemakai menjadi ketergantungan bahkan ada diantaranya yang menuai efek samping, diantaranya edema atau bengep atau membengkak badannya.
Di tingkat lapangan, para petugas kesehatan hanya bisa memberi pengertian dan penyuluhan, namun ternyata tidak mudah karena para pemakai hanya menilai dari efek sesaat yang dirasakan. Bagaimana para penjual ? Niscaya mereka juga tidak tahu menahu soal public warning, sebagian para penjual menganut paham yang penting diminati pangsa pasar dan laku dan …. laba.
Paling laris adalah jamu yang mengusung merk anti nyeri, linu dan sejenisnya dan dikenal oleh pemakai dari mulut ke mulut sebagai anti asam urat atau jamu flu tulang.
Walaupun Badan POM sudah merilis public warning karena obat-obat tersebut mengandung bahan kimia obat semisal piroksikam, prednison, asetosal dan golongan non steroid anti inflamasi lainnya dengan dosis yang tidak diketahui, namun peringatan tersebut seolah angin lalu bagi pemakai dan penjual.
Dengan menerbitkan brosur-brosur memang bisa memberi pengertian kepada para pemakai, sayangnya sedikit yang bisa mengerti, yang lain tetap berpedoman “rasa nyaman”.
Sebuah tantangan dan tanggung jawab yang harus dilanjutkan untuk menyelamatkan para pemakai.
Di tingkat pusat peran Badan POM patut dipertanyakan sebagai guard keselamatan konsumen, ataukah masih menunggu teriakan YLKI seperti kasus phenyl prophanol amine ? Bagaimana Badan POM daerah ?

Artikel Asli di sini

%d blogger menyukai ini: