Dyspareunia : nyeri saat hubungan sexual

Sekedar selingan: Nyeri saat hubungan sexual

Di kalangan wanita, khususnya daerah pedesaan, sebagian wanita menganggap bahwa rasa nyeri saat berhubungan seksual dihubungkan dengan pengantin baru. Terbayang rasa sakit dan tetesan darah ketika berlangsung ritual “mecah duren“.

Hahhh, “mecah duren” ? Iya, istilah ini pemulis dapatkan dari kalangan lelaki. Artinya membelah durian. Bisa dibayangkan kan? Diperlukan upaya keras dan cucuran keringat *halah* untuk memecah durian. Kesulitan rudal or pangeran kecil™ menembus selaput dara (hymen) inilah mungkin yang mendasari pandangan tersebut. Tentu anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Jika dilakukan dengan lembut penuh kesabaran, rasa sakit saat acara “mecah duren” dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Maksudnya “gak sakit kang”. Mak nyusss. Ehm

Berbeda jika lelaki terburu-buru seperti dikejar hansip, maka pelumasan (lubrikasi) vagina tidak optimal, area pacu kurang licin, akibatnya ya sakit.
Makanya, ibarat naik sepeda motor, panasi dulu biar jreng.
Jangan tertawa dong.
Penulis sering mendapati keluhan seperti ini. Masih ingat tho, penulis tinggal di pinggiran kota, sekitar 20 km dari pusat kota Samarinda. Walaupun upaya penyuluhan pra nikah sudah dilakukan, tak mudah dalam aplikasi saat pergulatan di ranjang terjadi.

Nyeri saat berhubungan intim (sexual pain disorder) bisa terjadi pada wanita manapun. Yang sudah bertahun-tahun menikahpun dapat mengalami nyeri saat berhubungan intim. Lho koq bisa ? Ya iya lah, kalau main sruduk tanpa foreplay yang memadai, wanita akan merasa kesakitan.

Pembagian:

  1. Dyspareunia. Kode ICD.10: (N94.1) Dyspareunia . Sakit (pada kemaluan) yang dirasakan saat sebelum, selama dan sesudah berhubungan intim. Alih-alih merasakan kenikmatan, justru menurunkan gairah. Penyebabnya bermacam-macam, diantaranya: gangguan fisik secara umum, gangguan hormonal, kurangnya pelumas vagina, infeksi vagina, dan gangguan lain pada vagina.
  2. Vaginismus. Kode ICD.10: (N94.2) Vaginismus. Rasa sakit akibat ketegangan otot-otot vagina ketika berhubungan intim. Biasanya karena takut, trauma masa lalu dan faktor psikologis lainnya.

Pangeran Kecil ™ ukuran jumbo alias XL kadang menimbulkan rasa takut. Misalnya, saat melihatnya, wanita berpikir: ” ihhh, bisa masuk enggak ya … “. Perasaan seperti ini adakalanya menyebabkan otot-otot vagina mengalami ketegangan.

J o k e:
Seorang suami siap bertempur dengan istri tercinta pada malam pengantin baru. Ketika masuk kamar pengantin nan harum wewangian, si suami bertelanjang dada hanya memakai celana kolor. Pengantin wanita senyum-senyum membayangkan belaian lembut dan nikmatnya melayang ke awang-awang.
Saat melihat kolor suami tercinta dan bayang-bayang pangeran kecil ™ si istri mendadak menjerit panjang lalu pingsan, auwwww.
Tak urang seisi rumah kaget mendapati pengantin wanita tergeletak masih mengenakan daster. Segala minyak harum maupun pedas ditempelkan di depan hidung agar pengantin wanita siuman.
Usut punya usut, ternyata di depan kolor pengantin pria tertulis banner 10 Kg ™.

Ok, sekian selingan seputar “NYERI SAAT BERHUBUNGAN INTIM”. Tulisan pendek ini sebagai pemanasan untuk postingan berikutnya, sekaligus dilengkapi dengan format PDF, yakni: Sex tak selalu nikmat.

Dyspareunia, tidak melulu milik kaum hawa. Lelaki bisa mengalami dyspareunia, misalnya: tidak khitan, penyakit-penyakit pada pangeran kecil ™.

catatan kecil:
Bagi pangeran kecil™ yang sudah terlanjur berukuran jumbo, tak perlu risau. Begitu juga yang berukuran S, tenang man, yang penting kelincahannya

Topik Terkait:

Posting asli di sini

%d blogger menyukai ini: